Kamis, 07 April 2011

Merah Putih dalam Islam


Setelah mengetahui Islam lebih dulu ada jauh sebelum Majapahit berdiri, lalu apa kaitannya dengan bendera "Merah-Putih" Indonesia?

Mansyur Suryanegara adalah salah satu sejarawan yang berpendapat budaya penggunaan simbolik warna merah dan putih di Indonesia pertama kali diperkenalkan oleh para penduduk Muslim yang bermukim di Indonesia saat itu.

Mansyur mengatakan di dalam budaya Muslim sendiri dikenal beberapa riwayat hadits-hadits yang merujuk pada penggunaan warna merah oleh Nabi Muhammad saw. oleh karena itu bagi beberapa pandangan kaum muslim sudah tentu riwayat-riwayat ini dijadikan sebagai rujukan dari keutamaan warna merah. Seperti misalnya sebuah hadits shahihain berikut ini:

Riwayat dari Bara bin Azib yang mengatakan: "Aku pernah menyaksikan Nabi saw. mengenakan pakaian berwarna merah". [H.R. Bukhari dan Muslim]

al-Barra meriwayatkan bahwa busana perang Rasulullah saw. seperti yang dilihat salah seorang sahabat: "Sungguh kusaksikan Rasulullah saw. berbusana Hullatun (sejenis baju rangkap dua) merah warnanya. Dan aku belum pernah melihat busana Rasulullah saw. yang seindah itu". [H.R. Bukhari, Abu Daud, dan Tirmidzi]


Bahkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dengan gamblang sekali menyebutkan pasangan warna merah dan putih disebut-sebut oleh Nabi Muhammad saw.

Imam Muslim dalam Shahihnya Kitab al-Fitan, Jilid 10, halaman 340, telah mencatat: dari Hamisy Qasthalani yang memperoleh beritanya dari Zubair bin Harb, dari Ishaq bin Ibrahim, dari Muhammad bin Mutsanna, dari Ibnu Basyayar, dari Mu'adz bin Hisyam, dari Qatadah, dari Abu Qalabh, dari Abu Asma' Ar Rahabiy, lalu dari Tsauban, ia menyebutkan bahwa Rasulullah saw. telah bersabda:

Innallaha zawalliyal ardha (Sesungguhnya Allah memperlihatkan dunia kepadaku), masyariqahaa wa magharibahaa (aku ditunjukkan pula timur dan baratnya), wa a'thoniil kanzaini: (dan aku dianugerahi warna yang indah:) al-Ahmar (Merah) wal Abyadh (dan Putih).


Menurut Ismail Haqqi al-Buruswi dalam Tafsir Ruhul Bayan, menjelaskan bahwa Hawa (Siti Hawa) sama dengan Hautun artinya "Merah". Siti Aisyah ra. sering dipanggil oleh Rasulullah saw. dengan Humairoh artinya juga Merah. Oleh karena itu, menurut Prihandoyo Kuswanto, para ulama pendahulu di Indonesia, dalam membudayakan dan mengabadikan warna "Merah-Putih" diejawantahkan melalui upacara-upacara tertentu di antaranya:

* Setiap pembangunan rumah, pada kerangka atap suhunan dikibarkan Merah Putih, dengan harapan memperoleh syafa'at dari Rasulullah saw.

* Pada setiap Tahun Baru Islam (Hijriah) diperingati dengan membuat Bubur Merah Putih.

* Pada saat pemberian nama anak, juga dengan disertai pembuatan Bubur Merah Putih. Mengapa? Pada saat bayi dilahirkan sebagai lambang darah ibu [Q.S. al-'Alaq 96:2]. Selama 9 bulan 10 hari dalam rahim, bayi mengonsumsi darah ibu (merah warnanya). Setelah lahir masih tetap membutuhkan darah ibu, ASI (warnanya putih), selama 20 bulan 20 hari. Dengan demikian, seorang anak bayi membutuhkan darah ibu yang berwarna "Merah dan Putih" selama 30 bulan [Q.S. al-Ahqaaf 46:15].

* Plafon Ka'bah berwarna merah dan lantainya berwarna putih.

* Dalam pengucapan kata pengantar disebutnya dengan lambang Sekapur Sirih dan Seulas Pinang. Kapur dan Sirih akan menghasilkan warna merah, sedangkan Pinang yang diiris akan menampakkan warna putih. Jadi kata "Sekapur Sirih dan Seulas Pinang" bermakna "Merah-Putih". Di dalam masyarakat Islam Minang akrab juga dengan warna Merah, demikian pula busana kebesarannya dan busana penarinya menampilkan warna merah atau warna emas.

* Di kalangan masyarakat Islam Sunda dalam menyatakan rasa gembira dan syukurnya, menggunakan bahasa simbol seperti Kagunturan Madu (memperoleh madu) dan Karagragan Menyan Bodas (kejatuhan menyan putih). Madu sebagai lambang merah, dan Menyan Putih simbol warna putih. Jadi, makna kedua hal tersebut adalah "Merah-Putih". Sebaliknya untuk melambangkan jiwa yang serakah terhadap materi atau uang, maka disebutnya bermata hijau.

* Para Walilullah menuliskan al-Qur'an, pada penulisan Allah dan Asma Pengganti-Nya, dengan warna merah di atas lembar kertas yang putih warnanya.



SENIORNYA MAJAPAHIT LEBIH DULU "MERAH-PUTIH"

Pendapat ketiga bahkan lebih jauh lagi mengatakan bahwa budaya merah putih sudah lazim digunakan oleh penduduk Indonesia sebelum Majapahit dan dikenalnya Islam di Indonesia.

Simbolisasi merah-putih ternyata juga dimuat di dalam ornamen Candi Borobudur, yang dibangun pada tahun 824 M saat Islam sudah bersinar di Tanah Jawa. Di salah satu dindingnya terdapat "Pataka" di atas lukisan dengan tiga orang pengawal membawa panji merah putih yang berkibar. Candi Prambanan di Jawa Tengah juga terdapat lukisan Hanoman terbakar ekornya yang melambangkan warna merah (api) dan warna putih pada bulu badannya.

Pada tahun 1222, sekitar setengah abad setelah Salahuddin al-Ayyubi membebaskan Yerusalem dan Islam telah bersinar di Nusantara selama enam abad lebih, berdirilah kerajaan Singosari setelah kerajaan Kediri mengalami kemunduran. Raja Jayakatwang dan Kediri saat berperang melawan Raja Kertanegara dari kerajaan Singosari di tahun 1292 sudah menggunakan bendera merah putih. Ini terjadi saat Gajah Mada belum lahir.

Warna Merah Putih dalam budaya Indonesia ternyata punya sejarah yang lebih tua lagi dari Majapahit. Sejak abad pertama masehi, di pesisir utara Jawa Barat terdapat Krajan Salakanagara (Kerajaan Salakanagara) yang menganut keyakinan asli lokal belum tersentuh Hindu atau Buddha. Bahkan eksistensi kerajaan ini lebih tua 6 abad sebelum Islam menyentuh Arab, oleh karena itu ada pula yang meyakini kerajaan ini sebagai kerajaan pertama di Nusantara.

Sejarawan Betawi, Drs. H. Ridwan Saidi dalam bukunya "Betawi Riwayatmu Dulu", mengupas pula perihal Kerajaan Salakanagara ini dengan mengatakan bahwa asal usul orang Betawi dapat ditelusuri dari kitab sejarah Wangsakerta, yang ditulis berdasarkan pertemuan para sejarahwan Nusantara pada tahun 1667 di Cirebon.

Kitab yang konon dinista banyak sejarahwan ini, pada era selanjutnya mengungkap keberadaan kerajaan Salakanagara yang didirikan pada awal abad Masehi oleh seorang jago dari kampung kali Tirem, Jakarta Utara, yang bernama Aki Tirem. Kali Tirem adalah tempat perdagangan priok atau bejana terbesar. Karena seringnya bajak laut datang menjarah komoditas dagang di sana, Aki Tirem selaku pengulu kampung kemudian menganggap perlu membentuk sebuah sistem kekuasaan (Nagara). Sistem itu disebut Krajan yang menurut Wangsakerta bernama Krajan Salakanagara. Penduduk Salakanagara itulah proto Melayu betawi.


Ridwan Saidi menyatakan pula bahwa di utara Condet, terdapat pelabuhan Kalapa yang menjadi bagian dari Krajan Salakanagara yang sudah berdiri pada tahun 100 M. Dalam kitab Wangsakerta, disebutkan jika wilayah ini telah ramai disinggahi para pedagang dari Maghribi, India, dan juga bangsa Tiongkok. Dengan sendirinya, warga sekitar telah menyerap banyak pengaruh dan adat istiadat asing. Bahkan kosakata Arab seperti "Adat, Kramat, Alim, dan Kubur", telah ada di wilayah cikal bakal Betawi jauh sebelum Islam menyebar di wilayah ini pada abad ke-15 M.

Sekitar tahun 1970-an, tim arkeolog Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta menemukan situs kapak batu di daerah Condet. Situs kapak batu, beliung batu, pahat batu, dan sebagainya yang ditemukan tersebut berasal dari masa 1.000-1.500 tahun SM. Benda-benda itu digali dari tepian sungai Ciliwung, di daerah Condet dan Kalibata Pejaten, Jakarta Selatan. Situs ini membuktikan jika nenek moyang orang Betawi, sudah hidup di wilayah tersebut berabad-abad sebelum negara Portugis dan Belanda lahir, bahkan sebelum kelahiran Nabi Isa a.s.

Sejarawan Sugiman MD memperkuat pandangan bahwa penduduk pribumi Indonesia sudah ada di Betawi jauh sebelum kedatangan Belanda dan Portugis dengan menyatakan: "Pada masa itu, di Condet dan beberapa tempat di Jakarta sudah ditempati nenek moyang bangsa Indonesia." Hal ini menandakan jika di zaman batu (Neolitikum), wilayah Condet dan sekitarnya telah mengenal peradaban. Bahkan pada 1971, di Pejaten-Pasar Minggu, ditemukan lampu perunggu dan lampu kuil yang menandakan di daerah tersebut telah ada kepercayaan atau agama.

Sejarawan Uka Tjandarasasmita juga menegaskan jika paling tidak sejak zaman neolitikum atau batu baru (3500-3000 tahun SM) daerah Jakarta dan sekitarnya dimana terdapat aliran-aliran sungai besar seperti Ciliwung, Cisadane, Kali Bekasi, Citarum, pada tempat-tempat tertentu sudah didiami orang.

Beberapa tempat yang diyakini berpenghuni manusia itu antara lain Cengkareng, Sunter, Cilincing, Kebon Sirih, Tanah Abang, Rawa Belong, Sukabumi, Kebon Nanas, Jatinegara, Cawang, Cililitan, Kramat Jati, Condet, Pasar Minggu, Pondok Gede, Tanjung Barat, Lenteng Agung, Kelapa Dua, Cipete, Pasar Jumat, Karang Tengah, Ciputat, Pondok Cabe, Cipayung, dan Serpong. Jadi menyebar hampir di seluruh wilayah Jakarta.


Dari alat-alat yang ditemukan di situs-situs itu, seperti kapak, beliung, pahat, pacul yang sudah diumpam halus dan memakai gagang dari kayu, disimpulkan bahwa masyarakat manusia itu sudah mengenal pertanian (mungkin semacam perladangan) dan peternakan. Bahkan juga mungkin telah mengenal struktur organisasi kemasyarakatan yang teratur.

Jauh sebelum era Salakanagara, para penduduk di Nusantara dan juga pulau-pulau di sekitarnya yang berasal dari orang-orang Austronesia, yang datang sekitar 6.000 tahun silam, diyakini telah memiliki kepercayaan religi terhadap alam semesta.


Salah satu buktinya seperti yang diutarakan oleh Ridwan Saidi yang menyebutkan bahwa nenek moyang orang Betawi bukanlah beragama Hindu atau Budha seperti yang disangka banyak kalangan saat ini, melainkan suatu bentuk keyakinan terhadap arwah leluhur. "Jejak Budha pada orang Betawi jelas nihil. Jejak Hindu paling-paling dari Tarumanegara atau Pajajaran. Tapi orang banyak lupa jika Hindu adalah agama kerajaan, yang hanya dianut para elit kerajaan, tidak orang-orang kecilnya. Agama asli orang-orang Betawi adalah agama lokal, yakni pemujaan terhadap arwah leluhur. Sisa-sisa keyakinan itu kini masih ada di Kranggan, Pondok Gede, Bekasi".


Salah satu ritualnya adalah penghormatan terhadap Matahari dan Bulan. Dalam bahasa sanskrit, yang merupakan salah satu bahasa tertua di kepulauan ini, Matahari (Atlittga) dilambangkan dengan warna merah, sedangkan Bulan (Chandra) dilambangkan berwarna putih. Keyakinan ini dipegang oleh orang-orang yang berdiam di Kepulauan Austronesia yang berada di Samudera Hindia dan juga Pasifik.

Orang-orang Austronesia kemudian berasimilasi dengan para pendatang baru yang datang dari utara Asia Tenggara, 2.000 tahun setelahnya. Keturunan merekalah yang kini menjadi suku asli Nusantara yang kita kenal saat ini.

Nenek moyang kita ini hidup bersama alam. Mereka percaya jika kehidupan ini berasal dari dua zat utama yang ada di dalam diri manusia, hewan dan juga tanaman yaitu: Getih dan Getah. Getih adalah darahnya manusia dan hewan, berwarna merah, dan Getah adalah darahnya tanaman, berwarna putih.

sumber:http://asetow.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar